KH.Syafik Pendiri P4TM , Respon  Bocor Alus Tempo, Mengedepankan Tabayyun, Terkait H.Her
Menit Baca
Teks

KH.Syafik Pendiri P4TM , Respon Bocor Alus Tempo, Mengedepankan Tabayyun, Terkait H.Her

Oleh

BANGKALQN, PIJARKICK.com- Tembakau Se-Madura (P4TM), KH Syafik Rofi’i, merespon pemberiataan Bocor Alus terkait mata rantai rokok di Madura, ia  menilai perkembangan industri rokok lokal telah mengubah posisi tembakau Madura. Komoditas ini tidak lagi sekadar hasil pertanian, tetapi mulai membentuk ekosistem ekonomi dari hulu hingga hilir.

Menurutnya, petani kini tidak hanya menanam dan menjual tembakau. Tumbuhnya industri rokok lokal juga membuka peluang bagi pedagang, UMKM, pekerja hingga masyarakat sekitar.

“Dengan adanya P4TM, petani tidak hanya menjadi petani tembakau. Setelah panen masih ada aktivitas ekonomi lainnya. Tembakau mulai menjadi ekosistem ekonomi masyarakat Madura,” ujarnya.

Ia menyebut harga tembakau setelah terbentuknya P4TM yang di nahkodain H.Hairul Umam alias H.Her,  bisa mencapai Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram, dibanding sebelumnya sekitar Rp30 ribu. Karena itu, ia mendorong pengembangan industri rokok lokal di Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan.

Namun, pemerintah menurutnya tidak cukup hanya melakukan penindakan terhadap persoalan rokok non-cukai. Pelaku usaha juga perlu diberi edukasi mengenai perizinan, cukai dan tata cara usaha yang sesuai aturan.


“Jangan hanya penindakan. Masyarakat harus dibina agar naik kelas, dari hulu sampai hilir,” katanya.

KH Syafik juga berharap pemerintah, khususnya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, memberikan pembinaan dan perlindungan yang adil kepada industri lokal.

“Jangan sampai penertiban tajam ke bawah, tumpul ke atas. UMKM rokok Madura juga menyerap banyak tenaga kerja, termasuk masyarakat yang sudah lanjut usia,” tegasnya.

Ia, juga menyinggung terkait pemberitaan Bocor Alus Tempo mengenai rokok non-cukai di Madura, KH Syafik meminta media tetap mengedepankan prinsip keberimbangan.
Menurutnya, jika nama atau pihak tertentu berkaitan langsung dengan pemberitaan, konfirmasi harus dilakukan secara serius, bukan sekadar mencantumkan bahwa pihak tersebut telah dihubungi tetapi tidak memberikan jawaban.

“Selevel Tempo seharusnya mendapatkan informasi langsung dari H. Her. Berita harus berimbang, tidak tendensius dan berdasarkan konfirmasi yang kuat,” ujarnya.

Ia menyebut H. Her sebagai sosok yang mudah ditemui oleh berbagai kalangan sehingga menurutnya upaya konfirmasi dapat dilakukan secara lebih mendalam.

“Kalau memang belum mendapatkan konfirmasi, jangan terburu-buru menaikkan berita. Kerja jurnalistik harus mengedepankan tabayun, keberimbangan dan iktikad baik,” ujarnya.

Ia menegaskan, kritik terhadap industri rokok tetap penting, tetapi harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, karena di balik tembakau terdapat petani, pedagang, UMKM dan tenaga kerja yang membentuk mata rantai ekonomi masyarakat Madura.




Komentar

0 Komentar
Belum ada komentar

Berita Lainnya