Tembakau Madura Jadi Sorotan, Petani, Kiai dan Akademisi Respons Podcast Bocor Alus Tempo
Menit Baca
Teks

Tembakau Madura Jadi Sorotan, Petani, Kiai dan Akademisi Respons Podcast Bocor Alus Tempo

Oleh

BANGKALAN, PIJARKICK.com  – Polemik pemberitaan Bocor Alus Tempo terkait persoalan cukai rokok Madura mendapat respons dari kalangan petani, kiai, dan akademisi. Mereka meminta persoalan tembakau dan industri rokok Madura dilihat secara utuh, termasuk dampaknya terhadap kehidupan petani.


Sekretaris Bassra sekaligus salah satu pendiri Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau Se-Madura (P4TM), KH Syafiik Rofii, mengatakan pemberitaan mengenai rokok Madura seharusnya tetap mengedepankan prinsip keberimbangan dan kode etik jurnalistik.


“Pemberitaan seharusnya berimbang, independen dan tidak tendensius. Kerja jurnalistik harus tetap berpedoman pada kode etik jurnalistik,” kata KH Syafiik, (18/9/2026).
Menurutnya, persoalan tembakau tidak hanya berkaitan dengan cukai. Di dalamnya terdapat rantai ekonomi yang melibatkan petani, buruh tani, pedagang, pengusaha hingga keluarga yang menggantungkan hidup dari komoditas tersebut.


Ia menyebut kehadiran P4TM yang dipimpin H. Hairul Umam atau H. Her turut memberikan harapan baru bagi sebagian petani tembakau Madura.
“Dulu banyak petani yang mengalami kerugian karena harga tembakau tidak menentu. Sekarang petani memiliki harapan baru,” ujarnya.


Hal senada disampaikan Hendri, petani muda asal Desa Cangkreng, Kecamatan Lenteng, Sumenep. Ia mengaku sebelumnya mencoba menanam berbagai komoditas, seperti cabai, terong, tomat dan sayuran.
Namun, hasilnya dinilai belum sebanding dengan biaya produksi dan tenaga yang dikeluarkan.“Dulu bertani hanya untuk menyambung hidup,” kata Hendri.


Menurutnya, gairah petani mulai kembali setelah harga tembakau dinilai lebih menjanjikan. Dalam satu musim tanam sekitar tiga hingga empat bulan, ia mengaku dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp50 juta.
Ia juga menyebut harga tembakau yang sebelumnya berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp30 ribu, berdasarkan pengalamannya kini bisa mencapai Rp50 ribu hingga Rp80 ribu.
“Sekarang bertani tembakau kembali menjanjikan. Anak-anak muda juga mulai melihat pertanian sebagai sesuatu yang bisa menghasilkan,” ujarnya.


Namun, Hendri berharap kebangkitan ekonomi petani tersebut diikuti tata kelola industri yang transparan dan sesuai aturan, termasuk dalam persoalan cukai.


Ia juga meminta informasi mengenai dugaan pembelian pita cukai bekas di Sumenep dengan harga sekitar Rp1.000 ditelusuri secara jelas agar tidak menimbulkan spekulasi.
“Kalau petani dituntut jujur dan tertib, industri juga harus transparan. Jangan sampai persoalan cukai justru menjadi ruang yang tidak pernah terang,” katanya.


Sementara itu, Rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Prof. Syafi, melihat persoalan tersebut dari perspektif ekonomi masyarakat.
“Kalau sebelumnya daun tembakau menjadi kecemasan, sekarang bisa menjadi daun emas,” ujarnya.


Menurutnya, keuntungan dalam dunia usaha merupakan hal yang wajar. Namun, pertumbuhan industri idealnya juga memberikan manfaat kepada petani sebagai bagian dari mata rantai ekonomi di sektor hulu.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu melihat industri rokok lokal tidak hanya dari sisi penerimaan cukai, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat Madura.
“Pemerintah perlu memberikan edukasi dan pendampingan kepada pengusaha rokok lokal agar mereka bisa mengelola perusahaan secara baik dan memenuhi ketentuan yang berlaku,” tuturnya kepada BANGSAONLINE.com, Jumat (19/9/2026).


Ia menambahkan, pembinaan terhadap industri rokok lokal perlu disesuaikan dengan karakteristik dan skala usaha. Dengan demikian, penegakan aturan tetap berjalan, sementara pelaku usaha juga memiliki ruang untuk berkembang secara legal.


Menurut Prof. Syafi, di balik selembar daun tembakau terdapat kehidupan petani, buruh, pedagang, pengusaha dan keluarga.
“Karena itu, yang diperlukan bukan saling menyalahkan, tetapi membangun ekosistem yang legal, transparan, sehat dan berkeadilan. Aturan tetap tegak, industri dapat tumbuh, dan petani tetap memiliki masa depan,” pungkasnya. (uzi)




Komentar

0 Komentar
Belum ada komentar

Berita Lainnya